Hemat Kertas Yuuuk…!!!!

Duh, gue baru tahu ternyata waktu tahun 2005, kita pernah pakai kertas sampe 5,6 juta ton. Itu diambil dari 22 juta meter kubik kayu.

Ga kebayang deh berapa pohon ditebang dan pastinya hewan-hewan di dalamnya jadi ‘homeless’ bahkan mati. Lebih parah lagi, penebangan dan pembakaran hutan ini katanya bikin pemanasan global makin parah. Soalnya hutan, yang fungsinya nyerap CO2, jadi berkurang. Sementara kitanya terus ngeluarin polusi C02 setiap hari. Cape dehhhh…!

Nah, makanya gw mau ngajak semua pembaca blog gw ini, mulai bijak deh kalau pake kertas. Mulai sadar kalau aktivitas kita tiap hari ikut nyebabin pemanasan global makin parah.

Sejak tau itu, gw mulai pake kertas bolak balik entah itu di kantor atau di rumah. Gw selalu mikir tiap mau nge print, kalau selembar kertas itu dihasilkan dari pohon. Terus, kalau udah kepake dua sisinya, baru deh dibuang atau dibuat bubur kertas. Lumayan kan bisa praktek daur ulang ngisi my weekend. Atau kalau ga ada waktu, gw sumbangin aja kertas-kertas itu ke pemulung atau home industry yang butuh kertas-kertas bekas kayak Kedai Daur Ulang yang ada di daerah Mampang Jakarta.

Cara lain, gw mulai berhemat pake tisu. Just reminder, tisu itu juga dibuat dari kayu lho! Jadi, kalau mau ngelap keringat atau meja, gw pake saputangan atau kain aja, daripada tisu. Lagian tisu satu ga akan cukup untuk ngelap meja kan?! Paling ga butuh 3-5 lembar tisu. Aih sayang amat….! Secara ekonomis, berhemat tisu juga ngurangin pengeluaran kan!

So, mulai deh kurangi penggunaan kertas untuk selamatkan bumi dari pemanasan global! Kamu juga bisa kok! Yuuuukkkk…..!

Daripada…

Ini ada sebuah cerita, disimak ya… 

Rumahku di Bekasi. Setiap kali aku ke Jakarta, lewat jalan tol Cikampek, aku melewati dua gerbang tol: Jati Bening alias Pondok Gede Barat dan Pondok Gede Timur. Kalau lewat Bekasi Barat, aku melewati tiga gerbang. Aku cerita kalau lewat tol Jati Bening dulu ya. Begitu sampai di jendela pembayaran, aku bersalam tempel dengan petugas. Aku mengulurkan uang tol, ia memebriku secuil kertas. Kertas itu langsung kuremas supaya mudah kulempar ke tempat sampah. Hal yang sama terjadi lagi di gerbang tol Pondok Gede Barat dan begitu lagi, begitu lagi setiap kali aku melewati gerbang tol. Bayar, terima secul kertas, lempar ke tempat sampah. Tapi kawan, kalian lihat ngga? Kalian sadar ngga? Sadar apa, tanya kalian? Itu.. kertas di tempat sampah di mobilku dan di mobil kalian. O o, kalian tidak membuang cuilan kertas itu ke temapat sampah? Kalian terbangkan kertas itu begitu menerimanya? Hehehe, pantas kawasan sekitar gerbang tol bak ditaburi bunga putih sepanjang hari. Mau tahu ke mana arah tulisan ini? Kita main matematika. Kalau cuilan kertas di tempat sampah mobil aku kumpulkan, lalu kusambung-sambung, berapa lebar atau panjangnya setelah satu bulan? Cuilan akertas itu berukuran 3 X 4 cm, Jadi luasnya 12 cm. Kalau aku bolak balik Bekasi-Jakarta- Bekasi dua kali saja sehari, aku menerima kertas selebar 4 X 12 cm. Dalam satu bulan aku punya kertas 20 X 48 cm, selebar dua kertas ukuran A4 Man! Naaa … terus…., berapa ratus mobil melewati jalurku setiap hari dan berapa puluh ribu kendaraan lewat dalam satu bulan. Hitung saja berapa rim kertas dibuang di tempat sampah dan diterbangkan angin di jalan? Dari mana datangnya kertas, ya kawan Kalau bukan dari kayu. Dari mana datanagnya kayu , ya teman Kalau bukan dari pohon….. Yuk pikirkan bersama jalan keluarnya,, kawan Biar kertas itu bisa lebih bermanfaat. Gimana kalau kertas diganti dengan plastik seperti yang dipakai di tol Bekasi Barat saja ya. Kartu plstik dikembalikan dan tidak dibuang, maka lebih hemat, tdak boros, mengurangi penggunaan kayu, dan mengurangi dana pengeluaran. Biar tarif tol tidak naik tiap tahun gitu loh ! Biar mengurangi sia-sianya penggunaan kayu.